Penyadapan Australia terhadap Indonesia

Perjalanan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono antara lain ke Inggris juga disadap. Akibatnya, Menteri Luar Negeri Marty Natalegawa mengatakan Kementerian Luar Negeri menuntut pemerintah Amerika Serikat dan Australia untuk memberikan penjelasan tentang desas-desus atau isu keterlibatan Washington dan Canberra terhadap penyadapan pembicaraan Presiden Yudhoyono.
Istana Wakil Presiden terletak di Jalan Medan Merdeka Selatan yang tepat bersebelahan dengan kantor resmi para diplomat AS di Jakarta. Para petugas keamanan Indonesia tentu sadar sekali bahwa pembicaraan di kantor Wapres itu sangat mudah disadap oleh AS sehingga tentu para petugas keamanan Indonesia sudah melakukan tindakan pengamanan atau mengantisipasinya.
Bappenas Salah satu kantor pemerintah Indonesia yang sangat penting adalah Badan Perencanaan Pembangunan Nasional atau Bappenas yang terletak di Jalan Taman Suropati, Jakarta. Tugas Bappenas sangat berat dari dahulu hingga sekarang yakni merencanakan pembangunan di seluruh Tanah Air mulai dari Jakarta hingga Papua Barat. Selain itu, para pejabat Bappenas juga harus merundingkan dengan petugas-petugas berbagai negara lainnya tentang berbagai hal misalnya bantuan asing, hingga kegiatan ekspor dan impor. Ternyata pembicaraan intern di Bappenas itu bisa bocor antara lain karena di depan kantor Bappenas itu terdapat rumah dinas duta besar Amerika Serikat. Pembicaraan di Bappenas, termasuk mesin fax, foto copy berhasil disadap oleh “mitra” Indonesia itu. Akibatnya, posisi Indonesia jika akan berunding dengan AS sudah bocor duluan sehingga sikap “tawar-menawar” Jakarta terhadap Washington menjadi sudah diketahui lebih dahulu. Akibatnya, sikap Indonesia menjadi sangat lemah.
Seorang jenderal berbintang dua yang sudah puluhan tahun bergerak di bidang intelijen pernah mengungkapkan kepada Antara bahwa intel-intel AS itu tidak hanya bergerak di Jakarta tapi juga “bergerilya” di berbagai daerah di Tanah Air terutama di wilayah-wilayah yang rawan secara politis dan keamanan seperti Aceh. Setelah terjadinya gelombang tsunami Aceh pada 26 Desember 2004, muncul bantuan kemanusiaan dari berbagai negara termasuk dari Washington yang mengirimkan bantuan kemanusiaan. Tapi ternyata banyak pesawat AS yang tidak hanya mengangkut bantuan, tapi juga masuk ke wilayah-wilayah yang seharusnya tidak termasuk dalam jalur penerbangan mereka. Namun sayangnya, Indonesia tidak bisa membuktikan adanya tindakan-tindakan ilegal seperti jika pesawat AS itu melakukan pemotretan yang sangat ilegal tersebut.
Menteri Luar Negeri Marty Natalegawa tentu sudah tepat jika meminta penjelasan dari para pejabat Washington dan Canberra terhadap tudingan- tudingan bahwa telah terjadi aksi liar berupa penyadapan tersebut. Para petinggi Indonesia harus mau dan mampu bersura keras dan tajam terhadap proses penyadapan yang dilakukan asing, apa pun negaranya. Kalau Jakarta hanya protes yang bersifat basa-basi, maka tindakan indonesia tu hanya akan dianggap sebagai hal yang bersifat formalitas saja. Kalau misalnya pembicaraan intern di Bappenas menyangkut perjanjian dagang dengan Wasington masih bocor lagi, maka kapan Indonesia akan mampu memiliki posisi tawar-menawar yang makin baik. Selain itu, jajaran keamanan Indonesia seperi Badan Intelijen Negara(BIN), Badan Intelijen dan Strategis Markas Besar TBI atau BIN serta Lembaga Sandi Negara atau Lemsaneg juga harus meningkatkan kemampuan seluruh pejabat dan petugas terkait untuk meningkatkan kemampuan anti sadapnya sambil terus melengkapi diri dengan berbagai peralatan yang semakin canggih agar Indonesia tidak lagi menjadi bulan-bulanan “mitra-mitranya yang baik” itu.
Kasus penyadapan memang sedang menarik saat ini, tidak saja antara Indonesia dan Australia, melainkan juga menghinggapi berbagai belahan dunia. Jauh, sebelum mengenai aksi penyadapan orang-orang nomor satu dan penting di Indonesia, salah satu sumber penyedia dan analisis dari Kasperky telah melansir sebuah infografik yang memuat sejumlah negara menjadi incaran mata-mata (cyber espionage).
langkah tegas pemerintah Indonesia untuk menarik duta besarnya, Nadjib Riphat Kesoema dari Canberra Australia patut diapresiasi seperti yang diungkapkan oleh Anggota Komisi I (Bidang Pertahanan, Intelijen, dan Luar Negeri) DPR, Tjahjo Kumolo dalam tulisannya “Pulangkan Dubes Australia” (Suara Merdeka, 20 November 2013). Selain itu pula, menurut Tjahjo, pemerintahan Presiden SBY yang berprinsip thousand friends zero enemy (seribu kawan tanpa lawan) sunggauh naif. Seharusnya, pemerintahan Presiden SBY menyadari bahwa karakter hubungan internasional secara universal memang lebih realistis ketimbang idealis-utopis.
Kembali ke infografik yang dirilis Kasperky yang disebut dengan operasi ‘Red October’ memang tidak menyinggung secara keseluruhan dalam hal penyadapan gadget atau pun mobile phone, tapi dari penjelasan dan informasi yang mereka kemukakan untuk negara Indonesia sendiri mendapat simbol yang berhubungan dengan ‘diplomatic’. Kita tidak bisa menjamin bahwa penyadapan hanya berhubungan dengan dunia cyber, semisal perangkat komputer, jaringan, dalam arti luas penggunaan seluler oleh orang-orang terkemukan pun termasuk dalam dunia cyber. Tujuan utama dari sejumlah serangan cyber (diam-diam) adalah untuk mengumpulkan dokumen-dokumen sensitif dari sejumlah organisasi, termasuk intelijen geopolitik, mandat untuk mengakses sistem komputer rahasia dan data dari perangkat mobile pribadi dan jaringan. Kasus ini pun diidentifikasi sudah dilancarkan sejak Oktober 2012, maka tidak heran kehebohan pun baru terasa sekarang, khususnya di Indonesia. Mari lebih melek teknologi, bukan saja melek teknologi penyadapan.

Sumber:
http://www.suarapembaruan.com/home/penyadapan-as-dari-era-presiden-habibie-hingga-sby/44477
http://hack87.blogspot.com/2013/11/infografik-sejumlah-penyadapan-di.html

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s